Sabtu, 4 April 2009

SIAPKAH KITA,BILA MAUT DATANG MENJEMPUT KITA?

Dapatkah kita menduga atau mengira Bilamana ajal kita akan tiba Di mana umur kita akan berakhirnya?
Dapatkah kita merencana atau berjanji Bagaimana cara kematian akan kita alami Sehingga kita siap rohani dan jasmani?
Dapatkah kita memohon jatah umur yang bagi kita tepat Sehabis Ramadhan atau berhaji, ketika dosa diampuni tammat Dan nyawa dicabut malaikat ketika kita dalam keadaan sehat?
Dapatkah waktunya kita majukan atau mundurkanKetika nafas terakhir itu dihembuskanDan sorotan mata kita dikosongkan?
Dapatkah kita membereskan segala yang terlalaiHutang-hutang, janji-janji, kerja yang terbengkalai Cita-cita yang belum tercapai?
Dapatkah kita menekan semua bentuk kesombongan Dan kepada orang-orang yang hatinya kita sakitkanDengan membungkuk merendah kita minta dimaafkan?
Dapatkah kita menyaring pergosipan dan pergunjinganLalu suatu waktu total sepenuhnya dihentikan Sehingga daging saudara sendiri tak lagi dikunyah dimakan?
Dapatkah kita menghabisi semua ganjalan iri hati Kecemburuan yang dibisikkan jin di telinga kanan dan kiriDan mereka diusir sejauh usir dengn ayat Kursiy?
Dapatkah kita padamkan segala bentuk dendam Yang di dalam hati lama kita pendam-pendam Dan dengan tulus memberikan permaafan?
Dapatkah kita musnahkan perilaku ujub dan riya kitaSuka mencerca dalam hati, pamer jasa dan hartaDan berhenti menyebut-nyebutnya?
Dapatkah kita dengan tepat melaksanakan evaluasiTerhadap harta benda yang selama ini diakumulasiSehingga benar-benar bersih bagi yang akan diwarisi?
Dapatkah kita kepada jantung kita yang berpuluh tahuh bekerja setiaSetiap detik dia berdenyut untuk kelangsungan hidup kitaSiapkah kita, bila jantung kita berkata, "Sudah, cukup sampai di sini saja?
"Pada suatu masa, di suatu tempat, maut akan tiba Beratus kemungkinan waktunya Beribu kemungkinan tempatnya Melalui gabungan kemungkinan bentuk dan cara Lewat penyakit, kecelakaan, perang, berbagai bencana Di dalam rumah, kendaraan, jalan raya, di alam terbuka Secara sangat pelahan dan begitu lama orang dapat menduga-duga Secara pelahan orang mana mungkin menerka Secara tak disangka, sangat tiba-tiba tanpa isyarat suatu apa Dan tepat pada detik terjadinya Kita yang menyaksikan, semua terpana, menundukkan kepala Semua terpukul, tergoncang, terhempas, terobek, tiada sepatah kata Semua menitikkan air mata Belum pernah mereka yang mengalami dicabut nyawanya Kembali ke dunia dan menyampaikan pengalaman ajal yang nyata Sehingga paling banyak kita hanya mengira menduga Mereka yang berlarian bergelimpangan di pantai Lhok Nga Mereka yang digulung lumpur tsunami sepanjang jalan Syiah Kuala Mereka yang kehabisan nafas dikejar dinding air setinggi pohon cemaraa Kanak-kanak yang bertengger di dahan batang nangka Orang-orang yang memanjat pohon kelapa Ibu-ibu yang hanyut dengan bayinya Kabel putus habis, tiang listrik yang bengkok patah tiga Rumah punah, hotel rubuh, truk remuk, asrama rata Berpuluh, beratus, beribu, berpuluh ribu banyaknya Jenazah di bawah puing, di tengah puing, di atas pung berada Bergelimang lumpur, bergelimang air mata Menyesak udara, menyesak dada kita semua
Wahai Krueng Aceh Wahai Krueng Lamteh Jadilah air sungai yang jernih kembali kiranya Maut telah menjemput saudara-saudara kitaJ annah jualah bagi mereka Maut akan menjemput kita pula Dapatkah kita menyusul ke Firdaus yang sama?

Tiada ulasan:

1001 makna...

Foto-foto ini aku ambil sewaktu sambutan Hari Keluarga Al-Bajuri kali ke 41 pada 25 Disember 2014 yang lalu.. Entah kenapa aku suka ambil ga...